Salah satu komunitas yang gencar melakukan aksi sosial adalah Generasi Peduli, sebuah organisasi nirlaba yang dibentuk oleh mahasiswa dari beberapa universitas di Jakarta. Dalam satu tahun terakhir, komunitas ini telah melaksanakan lebih dari 25 kegiatan sosial, mulai dari pemberdayaan UMKM lokal hingga kampanye edukasi bahaya perundungan di sekolah.
“Anak muda sekarang punya semangat tinggi untuk membuat perubahan. Kami sadar bahwa media sosial bisa jadi alat yang kuat, tapi aksi nyata tetap penting,” ujar Andini, ketua Generasi Peduli, saat diwawancarai pada acara peringatan Hari Kemanusiaan Sedunia, Rabu (2/7).
Pakar sosiologi dari Universitas Indonesia, Dr. Bambang Sudrajat, menyebut bahwa fenomena ini merupakan hasil dari peningkatan literasi sosial dan kemudahan akses informasi. “Generasi muda hari ini lebih terbuka terhadap isu-isu global seperti perubahan iklim, kesetaraan gender, dan kemiskinan. Mereka tidak tinggal diam, tapi bergerak,” jelasnya.
Namun demikian, Dr. Bambang juga mengingatkan pentingnya pendampingan agar semangat ini tidak hanya bersifat sementara. “Dibutuhkan sinergi antara masyarakat, pemerintah, dan lembaga pendidikan agar gerakan sosial ini bisa berkelanjutan.”
Pemerintah melalui Kementerian Sosial juga menyambut baik geliat sosial yang dilakukan anak muda. Beberapa program seperti Kampung Siaga Bencana dan Taruna Siaga Bencana (Tagana) Muda kini melibatkan lebih banyak relawan dari kalangan pelajar dan mahasiswa.
Kegiatan sosial yang dilakukan generasi muda menjadi angin segar bagi masa depan bangsa. Dengan semangat gotong royong dan empati yang tinggi, mereka berpotensi menjadi agen perubahan yang membawa dampak positif bagi masyarakat.
